Wednesday, March 6, 2013

Analanggai’s Family

Philosophy of  Analanggai :  ANALANGGAI berarti seorang anak laki-laki dalam bahasa daerah Sulawesi Tenggara, Kendari—Tolaki. Saya sendiri tidak begitu tahu dengan jelas sebab mengapa kami sepakat menyandang marga tersebut. Tetapi yang jelasnya marga tersebut dapat mengelompokkan kami di dalam dunia maya alih-alih mempermudah, menandai, dan menyatukan kami. Awalnya banyak diantara kami yang membubuhkan marga tersebut kemudian ada diantara kami yang melepaskan marga tersebut tetapi jangan berfikir mereka yang melepaskan marga tersebut berarti bukan teman lagi. Berikut mungkin sedikit tulisan saya tentang teman-teman terdekat saya. Inilah Analanggai’s :


A n w a r u d d i n         F a n d h y c k a
  Salah satu teman terbaik saya.  Anak ini akrab disapa ‘lobet’ oleh teman-teman sekolah. Membahas sedikit tentang sapaan yang dia sandang adalah dari kebiasaan dia ngantuk pada saat pelajaran di kelas. Saya bertemu untuk kali pertama dengan dia disalah satu forum pelajar sekota Kendari—FKO (Forum Komunikasi Osis). Kami bedua masih duduk dibangku sekolah menengah, akan tetapi kami terpisah sekolah pada saat itu. Kemudian kami bertemu kembali di sekolah tingkat atas—SMA 1 Kendari tercinta. Berbeda kelas namun “sehati”. Banyak hal bodoh sering kami lakukan begitu juga banyak kebiasaan yang sama kami lakukan, maksud saya disini adalah hobby tentu saja. Bercerita tentang kebiasaan buruk teman saya ini adalah dia cukup dikategorikan ceroboh. Sering melupakan dimana dia menyimpan kunci motornya sendiri. Ditinjau dari gaya hidup, anak ini termasuk Metrosexual. Memiliki bakat dance dan sangat memiliki ketertarikan besar terhadap dunia entertainment. Banyak prestasi-prestasi non-academicextracurricular yang dia capai seperti Finalis Duta Bahasa Sulawesi Tenggara salah satunya. 11 November 1992 dia dilahirkan oleh tante Ningsih Eyato Ali buah hasil perkawinan bersama Om Abdul Kadil Bc Ku. Anak kedua dari empat bersaudara dan menjadi satu-satunya ‘analanggai’ dikeluarga kecilnya. Terakhir, kata yang menggambarkan Lobet aka Anwar dimata saya, “you are the loyalist I ever met before”.


I m a m     P u t r a     M u s l i m i n

As known as Toke refers to Oteng. Seperti itulah sapaan untuk temanku dengan kulit putih pucatnya dan didukung dengan matanya yang sipit mengindikasikan dia termasuk dalam golongan non-pribumi—tionghoa. Tetapi jangan salah dia bukan keturunan cina ataupun korea dan sejenisnya. Tampangnya memang oriental membuat orang yang melihatnya untuk pertama kali menduga bahwa dia bukan berasal dari kota Kendari—Tolaki. Mungkin Anda tidak habis pikir bahwa dia memang keturunan asli Kendari, tolaki. Anak ke-empat dari enam bersaudara, memiliki tiga kakak kandung perempuan yang boleh dikata (karena saya mengalaminya sendiri dan melihatnya langsung) overprotective. Walaupun benar apa yang dilakukan ketiga kakaknya tersebut, menurut saya tidaklah harus seperti itu. 18 Desember 1991, anak ini dilahirkan oleh tante Siti Paulina pasangan dari om Muslimin. Tumbuh menjadi anak yang menurut saya sulit ditebak. Moody—temperamental itulah dia. Anak yang saya kenal sangat menyukai UNGU, salah satu band ter-exist di blantika musik Indonesia, pernah meminta saya untuk mendengarkan dia bernyanyi Dirimu Satu—track Ungu melalui saluran telephone. Pendapat saya tentang suara anak ini kalau direkam sih bagus tapi kalau dengarnya secara live standard. Terbilang cukup berprestasi, seperti halnya dia menjadi Duta Wisata Favorit kota Kendari 2010 lalu yang notabene aktif dalam kegiatan modelling, seperti pada ajang Remaja Ceria Kota Kendari kemarin dia meraih kategori the best costume. Bukannya menggurui para dewan juri yang kompeten dibidangnya masing-masing, akan tetapi yang seharusnya menjadi pemenang mutlak adalah teman saya ini. Kenapa? karena menilai dari sudut pandang kami (saya dan teman-teman lainnya) semua aspek kategori ada pada dia, ini bukan karena saya berteman baik tetapi secara obyektifnya adalah seperti itu. Inbox handset saya full dengan pesan Call Me–feature yang disediakan oleh Telkomsel kepada costumer-nya. Melakukan hal-hal yang saya anggap tidak penting, seperti halnya meminta saya untuk menelpon hanya untuk mendengarkan dia bernyanyi, sering menyerobot microphone orang pada saat berkaraoke. Teringat kami berdua sempat bertengkar hebat karena lirik lagu No Air - Chris Brown feat Jordin Sparks. Saking sama-sama kerasnya kami bahkan saling tonjok satu sama lain mempertahankan pendapat masing-masing (re: ego) saat itu masih duduk dibangku sekolah tingkat atas—SMA 1 Kendari tentu saja. Kata yang menggambarkan Oteng aka Toke dimata saya, “you're the most annoying and that's what made ​​me miss you”.


H e n d r a     E z a   P o y     H a s i m

Poci, ya teh yang menjadi langganan di sekolah yang sama sekali kami tidak sangka akan menjadi panggilan khas buat teman saya yang lahir 11 December 1993 ini. Bagaimana tidak, jika dirata-ratakan dalam sehari dia biasa mengahabiskan lebih banyak daripada yang kami konsumsi sendiri. Tahu kenapa? ternyata anak ini menaru hati pada salah seorang seller teh tersebut. Begitulah Hendra yang sekarang berdomisili di Jogjakarta, satu-satunya diantara teman dekat saya yang kuliah diluar kota, selalu ngeles jika tertangkap basah dengan kesalahan atau dengan hal-hal ganjil yang dia lakukakan. Ada beberapa hal dari anak ini yang sangat tidak bisa dilupakan alih-alih dia ubah menjadi lebih baik yaitu dia seringkali salah ketik pada keyboard atau pun pada text message, dan mungkin kebiasaannya itu masih ada tetapi saya harap tidak. Sebagai teman sebangku sewaktu SMA, dia sangat menyebalkan atau mungkin sayalah yang menyebalkan. Teringat beberapa memori tentang waktu itu (mungkin kedengarannya kekanak-kanakan, wajar masih ababil :p) saya membatasi meja kami berdua dengan buku, dimana dia tidak boleh melewati daerah meja yang saya telah batasi (hahaha…) anak yang aneh banyak hal yang ingin saya tulis tentang kebodohan anak ini maybe next timeTerakhir, kata yang menggambarkan Poci aka Hendra dimata saya, you're the one that most can make me laugh with your carelessness”.

No comments:

Post a Comment